Tuesday, September 16, 2008

Hadith/Hadis/Hadits Lemah (Dha’if) dan Palsu (Maudhu’) Berkenaan Ramadhan


Tatkala bulan Ramadhan, kita akan kerap disajikan dengan tazkirah dan ceramah sebagai halwa telinga. Dengan harapan ianya memberi motivasi serta keinsafan dalam mengharungi bulan penuh keberkatan tersebut. Ada juga e-mail serta sms yang dihantar dengan tujuan nasihat-menasihati. Akan tetapi, peringatan yang diberikan kadang-kala tanpa sedar terselit beberapa hadith yang kita sendiri tidak pasti akan kesahihannya.Akibatnya, ada antara kita yang menyebar tanpa menyelidiki terlebih dahulu kesahihan perkara yang disebarkan sekaligus menjadi pendorong kepada maraknya hadith-hadith lemah dan palsu di sekitar masyarakat.

“Bila engkau melihat suatu hadis yang bertentangan dengan akal atau yang menyimpang dari nas yang sahih, atau yang bertentangan dengan prinsip, maka ketahuilah bahawa hadis itu maudhu’ (palsu)” [Imam Ibnu Jawzi dalam bahagian muqaddimah dari kitabnya al-Maudhu’ath]

Sebagai contoh, hadith palsu yang masyur berkenaan kelebihan solat tarawih pada sekian-sekian malam dengan ganjaran yang melangkaui sangkaan pemikiran. Sehingga kini penulis difahamkan masih ada siaran telivisyen yang menyogok masyarakat dengan hadith palsu ini. Selain itu, hadith doa Malaikat Jibril yang diaminkan oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam agar tidak diterima puasa mereka yang tidak bermaaf-maafan juga antara hadith palsu yang masyur disebarkan dari satu Ramadhan ke Ramadhan seterusnya.


Mungkin ada pihak yang beranggapan bahawa sekalipun hadith-hadith ini terkenal dengan sifat-sifat maudhu’ (palsu) atau kedha’ifannya (lemah), namun tidaklah menjadi kesalahan untuk menyebarkannya kepada orang awam dalam rangka mengajak mereka kepada kebaikan kerana ianya mengandungi objektif-objektif yang baik dan terpuji. Sungguh, pendapat ini adalah tertolak dan disanggah kerana menyebar hadith-hadith yang sudah jelas akan kepalsuan dan kedhai’fannya adalah haram hukumnya mengikut ketentuan al-Qur’an dan al-Hadis yang sahih.

Hadis palsu sebenarnya adalah suatu kedustaan, apatah lagi kedustaan tersebut disandarkan kepada agama yang hak miliknya hanya pada Allah Subhanallahu Ta'ala. Hanyalah Allah sahaja yang berhak menyatakan sesuatu mengenai urusan agama-Nya, melalui wahyu al-Qur’an dan melalui lisan Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad Sallahu'alaihi Wa Sallam. Oleh itu, orang yang sengaja menyebarkan hadith-hadith lemah dan palsu dalam keadaan dia menyedari akannya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berdusta ke atas baginda Sallahu'alaihi Wa Sallam sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa yang menyebutkan sesuatu (hadith) dariku sedangkan aku tidak pernah menyebutnya, maka dia telah menempah tempat duduknya di dalam neraka” [Hadith diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Sahih al-Bukhari, no.109]

“Sesiapa yang meriwayatkan satu hadith mengenaiku sedangkan dia (sudah) mengetahui kepalsuannya maka dia tergolong (dalam kalangan) orang-orang yang berdusta” [Hadith diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Sahih Muslim, jld.1/222 no.1]

Maka di sini penulis merasakan perlunya untuk kita didedahkan dengan hadith-hadith lemah dan palsu seputar bulan Ramadhan yang rancak dituturkan. Hal ini berlaku baik kerana kejahilan atau wujud pihak yang sengaja ingin mengembar-gemburkan kelebihan Ramadhan sehingga sanggup berdusta atas nama Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Pemeliharaan ke atas agama suci ini perlu diperkuatkan bagi memerangi sesetengah pihak yang selesa mengikut citarasa dalam kehidupan beragama. Di bawah ini penulis sertakan beberapa hadith-hadith lemah dan palsu. Sesungguhnya banyak lagi hadith lemah dan palsu jika hendak dirujuk, penulis sekadar menyertakan hadith-hadith yang dirasakan masyur di persekitaran kita, ianya telah diselidiki oleh pakar-pakar hadith dan perlunya kita berhati-hati dengannya. Penulis menyusunnya dalam bentuk di bawah agar lebih mudah difahami oleh orang awam. Semoga ianya bermanfaat.Wallahu’allam.

Hadith 1

"Bulan Ramadhan itu permulaannya rahmat, pertengahannya maghrah (ampunan), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka."

Hadith diriwayatkan oleh:-
-Al 'Uqaili, dalam Adh Dhu'afa no.172
-Ibn Adi, jld. 1 no.165
-Al Khatib, dalam Al Muwadhdhih, jld. 2 no.77
-Ad Dailami, jld. 1 hlm.10-11.
-Ibnu 'Asakir, jld.8.
[dari jalan Sallam bin Siwar dari Maslamah bin Ash Shalt dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu']

Hukum:-
Hadith mungkar.

Kecacatan Perawi:- Sallam bin Sawwar, Maslamah bin Shalt

Komentar terhadap perawi tersebut:-
-"Tidak ada asalnya dari Az Zuhri."[Al 'Uqaili]
1)Sallam bin Sawwar
-"Dan Sallam (bin Sulaiman bin Siwar), menurutku adalah
seorang munkarul hadits, dan Maslamah tidak dikenal."[Ibn Adi]
2) Maslamah bin Shalt
-"Dia itu matrukul hadits."[Ibn Abi Hatim]

Hadith 2

"Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya .." Hingga akhir hadith ini.

Hadith diriwayatkan oleh:-
-Ibn Khuzaimah, no.886
-Ibn Jauzi, Kitabul Maudhuat, jilid 2 hlm. 188-189.
-Abu Ya'la di dalam Musnadnya.

Hukum:- Hadits ini maudhu' (palsu).

Kecacatan Perawi:- Jabir bin Ayyub

Komentar terhadap perawi tersebut:-
-"Masyhur dengan kelemahannya (Jabir bin Ayyub)" [Ibn Hajar, Lisanul Mizan jld.2 hlm.101]
-"Dia suka memalsukan hadits"[Abu Nua'im]
-"Mungkarul hadits"[Imam Bukhari]
-"Matruk" (ditinggalkan) haditsnya"[Imam An-Nasa'i]
-"Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali"[Ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya]


Hadith 3

"Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain .. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka .." sampai selesai.

Hadith diriwayatkan oleh:-
-Ibnu Khuzaimah. no.1887.
-Al-Muhamili di dalam Amalinya, no.293.
-Al-Asbahani, At-Targhib [dari jalan Ali bin Zaid Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman].

Hukum:- Hadits ini sanadnya Dhaif (lemah)

Kecacatan Perawi:-Ali bin Zaid

Komentar terhadap perawi tersebut:-
-"Tidak kuat"[Imam Ahmad bin Hanbal]
-"Dha'if"[Ibnu Ma'in]
-"Lemah di segala penjuru" [Ibnu Abi Khaitsamah]
-"Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya."[Ibn Khuzaimah, Tahdzibut Tahdzib, jld. 7 hlm. 322-323]
-"Dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami'ul Jawami"[Ibn Hajar, Al-Athraf]
-"Hadits yang Mungkar"[Ibn Abi Hatim menukilkan dari bapanya, Illalul Hadits, jld. 1 hlm.249]


Hadith 4

"Berpuasalah, nescaya kalian akan sihat"

Hadith diriwayatkan oleh:-
1)Potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi dari jalan Nahsyal bin Sa'id, dari Ad-Dhahak dari Ibu Abbas.[Al Kamil jld.7 hlm.2521]
2)Diriwayatkan oleh At-Thabrani [Al-Ausath, jld. 1 hlm. 69, Al- Majma'ul Bahrain]
3)Abu Nu'aim dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abu Hurairah.[At-Thibun Nabawiy]

Hukum:- Sanad hadits ini lemah

Kecacatan Perawi:-Nashsyal, Ad-Dhahhak, Zuhair bin Muhammad,

Komentar terhadap perawi-perawi tersebut:-
-Nashsyal:termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta
-Ad-Dhahhak:tidak mendengar dari Ibnu Abbas.
-"Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam) yang dhoif itu"[Imam Ahmad daripada Abu Bakar Al-Atsram]
-"Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, kerana jeleknya hafalan dia" [Ibnu Abi Hatim]
-"Hadits ini tidak membuatku kagum" [Al-Ajalaiy, Tahdzibul Kamal jld.9 hlm.417]

Hadith 5

"Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh"

Hadith diriwayatkan oleh:-
-Bukhari dengan mu'alaq dalam shahih-nya tanpa sanad [Fathul Bari, jld. 4 hlm. 160]
-Ibnu Khuzaimah, no.19870
-At-Tirmidzi, no. 723
-Abu Dawud, no. 2397
-Ibn Majah, no. 1672
-Nasa'i di dalam Al-Kubra [Tuhfatul Asyraaf, jld.10 hlm.373]
-Baihaqi (4/228)
-Ibnu Hajar dari jalan Abil Muthawwas dari bapanya dari Abu Hurairah.[Taghliqut Ta'liq, jld.3 hlm.170]

Hukum: Hadits ini dhaif.

Kecacatan Perawi:- Hubaib bin Abi Tsabit, Abil Muthawwas dan bapanya.

Komentar terhadap perawi-perawi tersebut:-
-"Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah".[Ibn Hajar, Fathul Bari jld.4 hlm.161]
-"Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini dhaif juga."[Ibnu Khuzaimah]

Hadith 6

“Tidur orang yang berpuasa adalah ibadat, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni”.


Hadith diriwayatkan oleh:-
- al-imam al-Baihaqi [Syu’ab al-Imam]
- al-Suyuti [al-Jami’ al-Shaghir 1404/1981, 2/678]

Hukum:- Hadith dhaif.[al-Imam al-Suyuti], para ulama’ tahqiq yang lain yang lebih cenderung mengatakan bahawa ianya adalah hadith palsu.

Kecacatan Perawi:-
Ma’ruf bin Hisan, Sulaiman bin Amr al-Nakha’i

Komentar terhadap perawi-perawi tersebut:-
-"Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah pemalsu hadis" [Imam Ahmad Bin Hanbal]
-“Sulaiman bin Amr al-Nakha’i dikenali sebagai pemalsu hadis” [Yahya Ibn Ma'in]
-“Sulaiman bin Amr adalah manusia yang paling dusta di dunia ini”. [Yahya Ibn Ma'in]
-“Siapa pun tidak halal meriwayatkan hadis dari Sulaiman bin Amr”.[Yazid Bin Harun]
-“Sulaiman bin Amr adalah matruk (tertolak)”.[Imam Bukhari]
- “Para ulama’ sepakat bahawa Sulaiman bin Amr adalah seorang pemalsu hadis”.[Ibn Adi]
- “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah orang Bagdhad, yang secara lahiriahnya, dia adalah seorang yang salih, tetapi ia memalsukan hadis”.[Ibn Hibban]
- "Sulaiman bin Amr adalah pemalsu hadis" [Imam al-Hakim]

Ibn Yusof
16 September 2008/16 Ramadhan 1429
3.50 p.m
www.ibnyusof.blogspot.com

_______________________________________

Rujukan

- Syeikh Salim bin 'Eid Al- Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Sifat Puasa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam

- Mohd Hairi Nonchi, Hadis-Hadis Lemah & Palsu Berkaitan Dengan Bulan Ramadhan.

- Drs Abdul Ghani Azmi. Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu' (Jld. 1)

- Ustadz Arif Syarifuddin, Lc. Hadits-Hadits Dha’if Seputar Ramadhan.

No comments: